img_head
SEJARAH PENGADILAN AGAMA WONOSARI

Sejarah Pengadilan Agama Wonosari

Telah dibaca : 319 Kali

Pengadilan Agama Wonosari dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 61 Tahun 25 Juli 1961 dan mulai berlaku efektif tanggal 1 Agustus 1961. Gedung Pengadilan Agama Wonosari berdiri di atas tanah seluas 940 m2 dan luas bangunan 150 m2.

 

Sebelum tahun 2002, Angka perceraian tertinggi (perkara terbanyak) di DIY terdapat di Pengadilan Agama Wonosari. Pengadilan Agama Wonosari menempati urutan teratas dari jumlah perkara yang diterima dan diputus, disusul Pengadilan Agama Sleman, Bantul, Yogyakarta dan Wates. Sejak tahun 2003 Pengadilan Agama Sleman menempati rangking pertama dilihat dari jumlah perkara yang diterima dan diputus, sedang diurutan berikutnya Pengadilan Agama Wonosari, Bantul, Yogyakarta dan Wates. Jumlah perkara di Pengadilan Agama Wonosari semakin menurun, sejak tahun 2004 hingga sekarang Pengadilan Agama Wonosari menempati urutan ketiga, sedangkan perkara terbanyak pada urutan pertama dan kedua ditempati Pengadilan Agama Sleman dan Bantul. Wilayah yuridiksi Pengadilan Agama Wonosari mencakup 18 Kecamatan dengan 144 desa.

 

Ketua Pengadilan Agama Wonosari dari tahun 1962 s.d sekarang

NO Nama Ketua Tahun Peroide
1 KH. Amar Rosidi 1962 - 1980
2 Drs. H. Muhsinun, SH 1981 - 1996
3 Drs. Sukemi, SH 1996 - 1999
4 Drs. Fakhruddin Cikman, SH 1999 - 2002
5 Drs. Muchsin, SH 2002 - 2004
6 Drs. H. Agus Sugiarto, SH, MSI 2004 - 2008
7 Drs. Jeje Jaenudin, MSI 2009 - 2011
8 Drs. H. Abdul Ghofur, SH., MH 2012 - 2013
9 Drs. M. Nasir, MSI 2013 - 2015
10 Dr. Mohamad Jumhari 2015- 2017
11 Dr. H. Hafifulloh, S.H., M.H. 2017- Sekarang

 

Agama dan Tempat Peribadatan Di Gunungkidul
Menurut data BPS dan Departemen Agama Kab. Gunungkidul tahun 2010 dengan sumber Kandepag Kab. Gunungkidul. Dari jumlah penduduk Kab. Gunungkidul (759.938 jiwa), dikelompokkan berdasarkan agama, diperoleh data sebagai berikut :

 

 

<div style="\" font-size:"="">

 

No

Kecamatan

Islam

Kristen

Khatolik

Hindu

Budha

1

Karangmojo

46.620

3.616

1.577

-

2

2

Semanu

55.674

551

1.210

37

9

3

Tepus

37.677

652

153

-

-

4

Rongkop

32.185

381

97

-

-

5

Semin

53.249

1.232

467

10

47

6

Paliyan

32.682

200

124

252

1

7

Purwosari

4.122

-

-

50

-

8

Playen

52.762

1.209

2.986

402

17

9

Nglipar

37.312

187

73

10

1

10

Girisubo

3.851

2

-

-

-

11

Saptosari

37.312

708

-

1.437

-

12

Ngawen

34.236

618

721

1.500

281

13

Gedangsari

40.346

410

543

39

4

14

Ponjong

54.931

699

276

-

-

15

Tanjungsari

27.102

543

58

10

-

16

Panggang

26.288

238

236

25

551

17

Patuk

33.024

339

97

47

-

18

Wonosari

120.987

1.437

2.316

24

324

Jumlah

730.863

13.022

10.934

3.846

1.237

 

Sumber : Departemen Agama Gunungkidul November 2010

 

Di Kab. Gunungkidul terdapat 1.626 masjid, 449 mushola, 464 langgar. Selain itu tersedia 96 gereja (Kristen), 3 gereja dan 25 kapel (Katholik), 14 pura (Hindu), dan 8 wihara (Budha).

 

Kondisi Geografis Gunungkidul

Menurut Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, Gunungkidul artinya adalah \"gunung selatan\". Kabupaten Gunungkidul, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Ibukotanya adalah Wonosari. Kabupaten ini berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah di utara dan timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman di barat. Kabupaten Gunung Kidul terdiri atas 18 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Wonosari. Sebagian besar wilayah kabupaten ini berupa perbukitan dan pegunungan kapur, yakni bagian dari Pegunungan Sewu. Sebagian wilayah Gunung Kidul merupakan daerah tandus, dimana pada musim kemarau sering terjadi bencana kekeringan.


Gunungkidul mempunyai motto:Handayani (Hijau, Aman, Normatif, Dinamis, Amal, Yakin, Asah Asih Asuh, Nilai Tambah, Indah). Kabupaten yang terletak di titik kordinat 110° 21’ – 110° 50’ Bujur Timur 7° 46’ – 8° 09’ Lintang Selatan ini berpenduduk 759.938 jiwa.


Situs gudeg.net menyebutkan sebagai wilayah kabupaten terluas dari propinsi Yogyakarta, Kabupaten Gunung Kidul memiliki potensi wisata alam yang sangat besar untuk dilestarikan dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Kabupaten yang terletak di sebelah selatan Yogyakarta ini sebagian besar adalah dataran tinggi. 

Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu dari lima Kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan luas wilayah sekitar 1.485,36 km² atau ± 46,63% dan keseluruhan luas wilayah DI Yogyakarta. Kabupaten Gunungkidul merupakan dataran tinggi dan bergunung-gunung, dengan topografi keadaan tanahnya secara garis besar dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah pengembangan (Zona), yaitu:

1. ZONA UTARA(ZONA BATUR AGUNG)

Dengan ketinggian 200 - 700 m di atas permukaan laut. Wilayah ini berpotensi untuk obyek wisata alam perbukitan dan wisata geologi, meliputi Kecamatan Patuk, Nglipar, Ngawen, Semin, Gedangsari Bagian Utara dan Ponjong bagian utara.

2. ZONA TENGAH (ZONA LEDOK WONOSARI)

Dengan ketinggian 150 - 200 m di atas permukaan laut. Wilayah ini berpotensi untuk wisata alam perbukitan, wisata geologi dan ekowisata hutan, meliputi Kecamatan Playen, Wonosari, Karangmojo, Semanu Bagian Utara dan Ponjong Bagian Tengah.

3. ZONA SELATAN(ZONA PEGUNUNGAN SERIBU)

Dengan ketinggian 100 - 300 m di atas permukaan laut. Wilayah ini berpotensi untuk wisata pantai, wisata bahari, wisata geologi dan ekowisata kars, meliputi Kecamatan Tepus, Tanjungsari, Panggang, Purwosari, Paliyan, Saptosari, Girisubo, Rongkop, Semanu Bagian Selatan dan Ponjong Bagian Selatan.

Secara administratif Kabupaten Gunungkidul terdiri dan 18 kecamatan dan 144 desa, terletak di ujung tenggara kota Yogyakarta dengan jarak tempuh dan Yogyakarta ke Wonosari (Ibu Kota Kabupaten Gunungkidul) ± 40 Km. Daerah ini memiliki potensi obyek dan daya tarik wisata yang cukup beragam terutama obyek wisata alam yang masih segar dan alami.

 

Perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Gunungkidul dilakukan secara terpadu antar berbagai komponen yang menentukan dan menunjang keberhasilannya. Seperti pengembangan Obyek dan Daya Tarik Wisata, akomodasi, transportasi, telekomunikasi, air bersih dan cinderamata serta meningkatkan kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia yang merupakan pelaku utama dalam pembangunan kepariwisataan.

 

Melihat Gunungkidul adalah memandang gerak dinamis warga masyarakat yang siap untuk menghadapi tantangan keterbatasan potensi lahan dan kondisi geografis yang kurang mendukung. Namun dibalik itu, Gunungkidul menyimpan sejuta pesona keindahan alam yang sangat menarik untuk dinikmati. Indahnya debur ombak pantai laut selatan, semilirnya hembusan angin pegu sejuknya kawasan hutan wisata dan magisnya tempat tempat peninggalan sejarah, dengan tangan terbuka siap menyambut kunjungan para wisatawan