|
Sore itu kawasan Pantai Parangtritis dan Parangkusumo sangat
ramai dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara
seperti pada hari-hari libur lainnya. Cuaca tidak begitu cerah
karena gumpalan awan berjalan beriringan menyelimuti kawasan
parangtritis secara bergantian. Tak jauh dari tempat itu sekitar
35 orang duduk di atas tikar sementara yang lain sibuk mempesiapkan
theodolit, binocular, GPS dan peralatan lainnya. Mereka sedang
melakukan "ritual" rukyatul hilal untuk mengetahui
awal bulan Dzulhijjah 1428 H. Ada yang beda dengan rukyatul
hilal kali ini. Rukyatul hilal dilaksanakan di Pos Observasi
Bulan di perbukitan dekat komplek Makam Syekh Bela Belo, tidak
jauh dari Pantai Parangkusomo dan Parangtritis Bantul Yogyakarta.
Di tempat ini rencananya akan dibangun menara rukyatul hilal
oleh Badan Hisab Rukyat DIY dibawah koordinasi Kanwil Depag
DIY.
Komplek
makam Syekh Bela Belo berada pada 8 derajat 00 menit 56 detik
lintang selatan dan 110 derajat 19 menit 24 detik bujur timur.
Dengan ketinggian 28 m dari permukaan air laut, ketinggian hilal
awal bulan Dzulhijjah 1428 H pada tanggal 9 Desember 2007 adalah
-4 derajat 01 menit (menurut perhitungan sistem starry night).
Tempat ini cukup strategis untuk melakukan rukyatul hilal karena
pandangan ke arah ufuk cukup leluasa dan tidak ada halangan
sama sekali. Yang menjadi kendala -seperti di tempat rukyatul
hilal yang lain- adalah awan yang sering muncul dan mengganggu
pandangan terutama di musim hujan.
Acara
dibuka oleh Drs. Sya'ban Muroni, MA (Kasi Kemitraan Kanwil Depag
DIY), dilanjutkan sambutan Kepala Kanwil Depag DIY yang diwakili
oleh Kabid Urais (Drs. Mahmudi AF). Pemaparan kondisi hilal
disampaikan Anggota BHR DIY yaitu Mutoha dan Drs. Sofwan Jannah.
Meskipun ketinggian hilal awal bulan Dzulhijjah bernilai minus
atau hilal masih di bawah ufuk dan ijtimak (konjungsi) baru
terjadi pada tanggal 10 Desember 2007 jam 00:42 WIB, namun hal
tersebut tidak mengurangi semangat para pemerhati dan pecinta
hisab rukyat di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Selain merupakan
ibadah, rukyatul hilal di DIY merupakan media komunikasi antarpecinta
hisab rukyat, dari pemula sampai tingkat ahli (pakar). Kegiatan
ini juga digunakan sebagian peserta untuk sharing ide seputar
masalah hisab rukyat.
Rukyatul
hilal diikuti oleh Para pakar/ahli, BHR DIY, Kandepag se-DIY,
Pengadilan Agama (PA) se-DIY, ormas Islam dan masyarakat pemerhati
hisab rukyat. PA selama ini cukup aktif mengikuti rukyatul hilal
di bawah kordinasi Kandepag kab/kota. Seperti rombongan Kandepag
Gunungkidul yang sore itu hadir dengan 7 personel, yaitu: Warjono,
SAg., MAg (Kepala Kandepag Kab. Gunungkidul) beserta 2 orang
asisten/stafnya, KH Moh Sholeh (Pakar Hisab Rukyat Gunungkidul),
Ahsan Dawi, SH, SHI, MSI (PA Wonosari), Muthohar Abas SAg, MAg
(Lajnah Falakiyah PCNU Gununkidul), dan Sadmonodadi, SAg, MA
(PD Muhammadiyah Kab. Gunungkidul).
Apabila
pada saat rukyatul hilal setiap tanggal 29 bulan hijriyah keadaan
hilal masih d bawah ufuk (seperti awal Dzulhijjah 1428 ini),
biasanya -dan sudah menjadi tradisi di DIY- sebagian pecinta
dan pemerhati hisab rukyat akan kembali ke lokasi rukyat keesokan
harinya. Kedatangan yang kedua tidak terkait dengan penentuan
awal bulan karena bilangan bulan sudah di-istikmal-kan, tetapi
untuk mengetahui wujud atau bentuk hilal. Bagi perukyat merupakan
kepuasan tersendiri bisa melihat bentuk hilal secara nyata.
"Rukyat swasta" begitu sebagian orang menyebut rukyatul
hilal di hari kedua ini, juga bermanfaat untuk memastikan dan
menambah keyakinan bahwa hilal pada posisi tertentu sudah dapat
dirukyat jika tidak terhalang oleh awan atau mendung.(Ahsan)
|