|
| |
Dirjen
Badilag Wahyu Widiana dan KPTA Yogyakarta Hasan H. Muhammad
berpose bersama Panitera/Sekretaris Hj. Sri Murni,Tim
TI dan Karyawan Pengadilan Agama Wonosari. |
Dirjen Badilag MARI Wahyu Widiana melakukan kunjungan ke PA
Wonosari, Rabu (17/6). Kunjungan tersebut salahsatunya guna
memberi dukungan moral dan apresiasi terhadap Tim Teknologi
Informasi (TI). Menurutnya, perkembangan TI PA Wonosari pantas
diberi apresiasi karena telah memberi kemajuan dan citra baik
peradilan, khususnya terhadap Peradilan Agama. Prestasi yang
diraih tersebut hanya dapat diperoleh melalaui kerja keras,
keikhlasan, dukungan lingkungan dan pimpinan.
“Inilah
bukti nyata bahwa anggaran bukan segalanya. Asal ada kemauan,
dengan sarana sederhana pun tetap bisa memberikan hasil yang
maksimal,’’ ujar Wahyu Widiana ketika memulai obrolan
ramah tamah bersama Tim TI PA Wonosari.

| |
Ramah
tamah Dirjen Badilag Wahyu Widiana dan KPTA Yogyakarta
Hasan H. Muhammad dengan Tim TI Pengadilan Agama Wonosari |
Dukungan pimpinan lembaga punya dampak yang besar terhadap perkembangan
TI. “Kalau pimpinannya telah memberikan dukungan tentunya
perkembangan TI bisa lebih mudah dilakukan. Demikian halnya
dengan SDM pengelola TI bisa dicarikan jalan keluar dengan merekrut
tenaga honorer kalau memang dibutuhkan", jelas Dirjen yang
juga pakar hisab rukyat ini.
Wahyu
Widiana juga selalu mempromosikan PA-PA yang mempunyai keunggulan-keunggulan
tertentu diberbagai kesempatan seperti dalam forum-forum yang
diikutinya. Harapannya, bukan saja menyangkut citra peradilan
tapi juga agar bisa menular ke PA-PA lainnya sehingga pelayanan
terhadap pencari keadilan menjadi lebih baik.

| |
Dirjen
Badilag Wahyu Widiana dan KPTA Yogyakarta Hasan H. Muhammad
ketika memberikan dorongan semangat kepada Tim TI dan
Karyawan Pengadilan Agama Wonosari. |
Kedatangan
Wahyu Widiana yang mendadak seusai membuka acara Monitoring
dan Bimbingan Teknis Bindalmin Pengadilan Agama di PTA Yogyakarta
di PA Wonosari merupakan kejutan bagi Tim TI. Seperti ingin
menghilangkan formalisme Ia mengajak Tim TI diskusi banyak hal
tentang Perkembangan dan penerapan TI di lingkungan peradilan
Agama berikut hambatan dan tantangannya.

| |
Suasana
ceria dan penuh kekeluargaan tampak terpancar dari raut
wajah Panitera/Sekretaris Hj. Sri Murni, Tim TI dan Karyawan
Pengadilan Agama Wonosari ketika beramah tamah dengan
Dirjen Badilag. |
“Saya
mengucapkan terima kasih atas perkembangan dan penerapan TI
khusunya di PA Wonosari. Saya pun mendengar dan membaca berita-berita
di Website kalau PA Wonosari seringkali mendapat kunjungan dari
PA-PA lain. Mari kita pertahankan dan terus tingkatkan apa yang
sudah dicapai”. Ujarnya.
Perkembangan
teknologi yang serba cepat seperti website yang saat ini telah
dimanfaatkan sebagai penunjang tugas-tugas pokok di lingkungan
peradilan diharapkan terus diupdate agar pengunjung bisa memaksimalkan
informasi yang ada didalamnya. Bukan saja dari masyarakat umum,
tapi juga tidak sedikit orang luar negeri yang mencari publikasi-publikasi
putusan Peradilan Agama.
| |
Dirjen
Badilag Wahyu Widiana ketika menyapa salah satu pengunjung
di ruang tunggu Pengadilan Agama Wonosari |
Menurut
Wahyu Widiana apabila tidak ada kendala teknis yang berarti
Ia mengharapkan publikasi putusan bisa cepat di-online-kan melalui
website. “Perkara yang Putus hari ini kalau bisa langsung
dipublikasi di Website”. Ungkapnya sambil memberi semangat.
Menaggapi
harapan dari Dirjen Badilag tersebut anggota Tim TI PA Wonosari,
Ahsan Dawi, akan berusaha semaksimal mungkin dapat mempublikasikan
lewat Website Putusan secepat mungkin.
Kedatangan Dirjen Badilag Wahyu Widiana ke PA Wonosari didampingi
KPTA Yogyakarta, Hasan H. Muhammad seusai membuka Monitoring
Bindalmin di PTA Yogyakarta yang diperuntukan bagi Hakim dan
Panitera di Lingkungan Peradilan Agama Se-Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ikut serta dalam rombongan tersebut dua orang perwakilan Tim
TI dari Badilag, Iwan Kartiwan dan Sulaeman.
Suasana
cair penuh kekeluargaan mengiringi jalannya ramah tamah dengan
Tim TI dan Para Karyawan PA Wonosari. Bagi Wahyu Widiana Yogyakarta
dan sekitarnya bukanlah daerah yang asing, sembari mengulang
memori-memori sewaktu ia kuliah di kota gudeg tersebut. ”Yogyakarta
adalah kota kedua saya”, ujarnya, sambil menikmati Tiwul
(makanan khas) Gunungkidul.(*Fajar)
|